Selasa, 12 Februari 2013
Kisah Tentang Nabi Khidir
asal usul Nabi Khidir as. Banyaknya tokoh-tokoh sufi serta hamba Allah yang bergelar Walisanga pun menurut riwayat pernah bertemu dengan Nabi Khidir as ini. Beliau seorang anak cucu Nabi Adam as yang ditangguhkan kematiannya.
Keturunan Raja
Dari sebuah riwayat dari Asabath, Ibnu Akatsir, dikisahkan oleh As-Sayyidi. Nabi Kihidir adalah putera seorang raja yang sangat tekun melakukan ibadah kepadaAllah SWT. Ia melarikan diri dari keluarganya di istana karena tidak mau dikawinkan oleh ayahnya dengan seorang gadis yang disukai oleh semua sanak kerabatnya. Ia menolak perjodohan itu hingga selama kurang lebih satu tahun lamanya ia tidak pernah menjumpai calon istrinya. Setelah raja mengetahui bahwa Khidir meninggalkan istana dan pergi ke suatu tempat, maka diperintahkanlah seluruh punggawa kerajaan untuk mencarinya. Seluruh pelosok negeri yang menjadi kekuasaannya telah didatangi, namun pencarian itu sia-sia saja. Khidir tidak pernah ditemukan lagi
. Nama Lain Nabi Khidir as.
Nabi Khidir memiliki nama lain, yaitu Khadir, Al-Khadir atau Al-Khidir. Sebenarnya nama ini hanyalah gelar yang biasa disebut orang dan diidentikkan dengan nama Allah SWT yang menyerupai malaikat. Bisa diungkapkan sebagian orang kalau dia berkenan walaupun tidak semudah siapa yang menginginkan pertemuan dengannya. IbnuAskir dan sahabat-sahabatnya meriwayatkan bahwa hamba Allah SWT ini digelari "Khidir" karena perubahan warna di sekitarnya menjadi kehijauan bila dia shalat di suatu tempat. Sementara itu, sahabat Nabi yang bernama Ikrimah meriwayatkan bahwa dia digelari Khidir karena bila dia duduk di suatu tempat maka cahaya di sekitar itu berubah menjadi kehijauan. Sedangkan riwayat Imam Bukhari bahwa jika Nabi Khidir duduk di atas tumpukan jerami yang telah kering maka jerami tersebut akan menjadi hijau kembali.
Siapa Nabi Khidir as. Dari beberapa sumber ulama yang menjelaskan nama-namanya ada yang memanggilnya Khidir. Inilah beberapa pendapat tentang Asal usul Nabi Khidir.
1. Riwayat Ibnu Abbas. Khidir adalah nama seorang cucu Nabi Adam as yang taat beribadah kepada ALlah SWT dan ditangguhkan ajalnya.
2. Kitab Fthul Bari, Al Bidayah wan Nihayah serta Ruhul Ma'ani. Ibnu Khidir berasal dari Romawi sedangkan bapaknya keturunan bangsa Persi.
3. An-Nawawi. Dari Al-Alusi menyebutkan bahwa Khidir adalah putera seorang raja. Wallahu A'lam.
Kisahnya.
Asal nama Khidir dan beberapa kelebihannya. Ada orang yang memanggilnya Khadir, Al-Khadir atau Al-Khidir. Sesungguhnya nama ini diidentikkan dengan nama Allah SWT yang menyerupai malaikat. Bisa diungkapkan sebagian orang kalau ia berkenan, walaupun tidak semudah siapa yang menginginkan pertemuan dengannya. Untuk itu, mari kita lihat beberapa riwayat yang menceritakan tentang Nabi Khidir as berikut ini. Sementara itu, Ibnu Asakir dan sahabat-sahabatnya meriwayatkan, bahwa hamba Allah yang satu ini digelari "Khidir" karena perubahan warna di sekitarnya menjadi kehijauan bila ia sedang shalat di suatu tempat. Sahabat Nabi yang bernama Ikrimah meriwayatkan yang serupa kepada Ibnu Abi Hatim. Berkata Ikrimah, "Dia digelari Khidir karena bila dia duduk di suatu tempat maka cahaya di sekitar tempat itu akan berubah menjadi kehijauan. Mungkin karena pakaiannya yang berwarna hijau." Berkata As-Sayyidi, "Apabila Khidir berdiri di atas suatu tanah lapang yan gersang, maka dimana kakinya berpijak akan ditumbuhi rumput yang masih hijau hingga menutupi kedua telapak kakinya. Hal ini terjadi karena kebaikan pribadinya." Hal serupa diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Rasulullah SAW bahwa jika Khidir duduk di atas tumpukan jerami yang telah kering, maka jerami tersebut akan menjadi hijau kembali. Bukan main kepribadian yang beliau miliki ini. Wallahu A'lam..
Nabi Khidir Masih Hidup Hingga Akhir Zaman Berikut berbagai pernyataan yang membenarkan bahwa Nabi Khidir as masih hidup hingga sekarang. Diantaranya hadits-hadits, ulama-ulama. Nabi Khidir as merupakan guru teladan dari banyak kaum sufi, wali dan sebagainya. Kisah. Ulama besar ahli hadits yaitu Imam An-Nawawi menyebitkan bahwa dia sendiri berselisih pendapat tentang hidupnya Nabi Khidir as. Sebagian besar ulama beranggapan bahwa Khidir masih hidup di tengah-tengah kita. Imam An-Nawawi berkata, "Pendapat ini tidak ditentang sedikitpun oleh ulama-ulama kaum sufi dan ahli-ahli ma'rifat. Mereka pun pernah menceritakan pengalamannya pada waktu berjumpa, berkumpul dan berbincang-bincang dengan Nabi Khidir as. Dia (Khidir) terlalu mulia untuk dicaci atau dicari-cari aibnya, dan dia akan tetap dikenal walaupun kita berusaha menutup-nutupi berita tentang dirinya." Di dalam kitab Syarah Muhadzab Juz V, halaman 305. Imam An-Nawawi berkata bahwa ada beberapa orang sahabatnya yang mempunyai dalil yang membuktikan masih hidupnya Nabi Khidir as. Dia berkata, "Dan sebagian besar ulama berkeyakinan bahwa
Nabi Khidir as masih hidup sampai sekarang.
" Syeikh Ismail Haqqi berkata, "Kaum sufi dan para ulama bersepakat dengan keyakinan mereka bahwa Nabi Khidir as masih hidup hingga sekarang." Pendapat itu diikuti oleh Imam Arabi, Abu Thalib Al-Makki dan Al-Hakim. Terus At-Turmudzi, Ibnu Adham, Basyar Al-Hafi, Ma'ruf Al-Karkhi, Sari As-Saqati, Al-Junaidi, bahkan Khalifah Umar ibn Abdul Aziz r.a. Di Akhir kitab Sahih Musim bab yang menyebutkan hadits-hadits tentang Dajjal, Abu Said Al-Khudri berkata, Pada suatu hari Rasulullah SAW pernah bercerita panjang lebar kepada kami tentang diri Dajjal. Rasulullah SAW bersabda, "Ia datang tetapi diharamkan untuk memasuki lingkungan Madinah. Lalu ia berhenti di sebagian daerah yang terdapat sesudah Madinah dan pada suatu hari ia didatangi oelh seorang laki-laki yang baik termasuk orang yang terbaik di antara manusia saat itu. Kemudian dia berkata, "Saya bersaksi bahwa Anda ini adalah Dajjal yang diceritakan Nabi SAW dalam haditsnya." "Bagaimana menurut kalian jika aku membunuh orang ini lalu aku menghidupkannya kembali, apakah kalian mengusulkan sesuatu?" jawab Dajjal. Mereka menjawab," Tidak." Lalu Dajjal membunuh orang itu kemudian menghidupkannya lagi. Ketika orang itu akan dihidupkan lagi, dia berkata, "Demi Allah, di kalangan Anda sama sekali tidak aku dapati hari ini orang yang paling hebat pikirannya dibanding aku." Maka Dajjal pun bermaksud membunuhnya kembali, tapi tidak kuasa lagi membunuhnya. Abu Ishak berkata, "Orang laki-laki itu adalah Nabi Khidir as." Siapa Abu Ishak ini, diala seorang muslim bernama asli Ibrahim bin Sofyan. Dia banyak meriwayatkan kisah dari Imam Muslim. Sedangkan Mu'ammar berkata dalam kitabnya Musnad, "Lelaki yang pernah dijumpainya itu adalah Sayyidina Khidir." Kemudian Mu'ammar menjelaskan hadits nabi nseperti di atas. Dia berkata, "Hadits Rasulullah itu sebagai bukti bahwasanya Nabi Khidir as masih hidup."
Sebab Pertemuan Nabi Khidir dan Musa
Kisah Islamiah pendamping sahur. Dengan kisah Nabi Khidir as dan Nabi Musa as. Apa sebabnya terjadi pertemuan antara Nabi Khidir as dan Nabi Musa as. Kisahnya. Pada suatu hari Nabi Musa as berpidato di hadapan Bani Israil untuk mengingatkan akan perintah dan larangan Allah SWT. Tiba-tiba saja, di antara yang hadir tersebut ada seorang laki-laki yang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepada Nabi Musa as. "Wahai Nabi Musa, siapakah orang yang paling pandai di muka bumi ini?" tanya laki-laki itu. "Aku," jawab Nabi Musa as tanpa ada keraguan. Karena kekeliruan Nabi Musa as inilah maka Allah SWT menurunkan wahyu kepadanya sebagai peringatan dan teguran. Allah SWT berfirman, "Wahai Musa, Aku mempunyai seorang hamba yang shaleh dan alim melebihi pengetahuan-pengetahuan yang ada padamu. Dia berada di suatu tempat pertemuan dua lautan." (HR. Bukhari dan Muslim). Riwayat lain. Nabi Musa as bertanya kepada Allah SWT, "Ya Tuhanku, siapakah gerangan orang yang paling pintar?" Allah SWT menjawab," siapa saja di antara hambaKu yang senantiasa menyebut namaKu dan tidak membiarkan waktunya kosong dari menyebut kepadaKu." Nabi Musa as bertanya lagi, "Ya Allah, siapakah di antara hamba-hambaMu yang paling berilmu? Barangkali dengan ilmunya dia bisa memberi petunjuk kepada orang lain sehingga ia mau berpaling dari hal-hal yang akan memalingkannya dari Engkau." Allah SWT berfirman, "Orang yang paling pandai adalah orang-orang yang selalu belajar ilmu pengetahuan kepada orang lain." Nabi Musa as bertanya, "Masih adakah di antara hamba-hambaMu yang lebih alin dari padaku?" Allah SWT berfirman, "Ya, ada. Dia berada di dekat sebuah batu besar pada pertemuan dua lautan." Setelah Nabi Musa as bercakap-cakap dengan Tuhannya, lalu ia mempelajari taurat. Timbullah perasaan dalam hatinya bahwa dirinya adalah satu-satunya hamba Allah SWT yang paling alim. Karenanya, maka Allah SWT mempertemukannya dengan Nabi Khidir as. Selamat makan sahur saudara-saudaraku.
Sumber: Shahih Muslim fi Syarkhi Bukhari. Al Awhu, Ibnu Abdi Robbi.
Pesan Khidir Kepada Nabi Musa as
Kisah Islamiah menghadirkan kisah nabi. Nabi Khidir as dan Nabi Musa as tiada jemunya untuk dikisahkan. Sebab pertemuan mereka banyak sekali ilmu yang bisa dipelajari oleh semua orang sampai kini. Nabi Khidir as Nabi Khidir as ini merupakan nabi yang misterius, tidak bisa sembarang manusia bisa menemuinya juga menghilang sekehendak hatinya. Kisahnya. Dari Al Bidayah Wa An Nihayah halaman 329 serta Ihya Ulumuddin halaman 56. Ketika Khidir hendak berpisah dengan Nabi Musa as, berkatalah Nabi Musa as, "Berilah aku wasiat." Nabi Khidir as menjawab, "Wahai Musa, jadilah kamu orang yang berguna bagi orang lain. Janganlah sekali-kali kamu menjadi orang yang hanya menimbulkan kecemasan diantara mereka hingga kamu dibenci oleh mereka. Jadilah kamu orang yang senantiasa menampakkan wajah ceria dan janganlah kamu berkeras kepala atau bekerja tanpa tujuan. Janganlah kamu mencela seseorang hanya karena kekeliruannya saja. Kemudian tangisilah dosa-dosamu, wahai Ibnu Imron." Juga diriwayatkan bahwa setelah khidir as mau meninggalkan Nabi Musa as, dia berpesan kepadanya, "Wahai Musa, pelajarilah ilmu-ilmu kebenaran agar kamu dapat mengerti apa yang belum kamu pahami, tetapi jangan sampai kamu jadikan ilmu-ilmu itu hanya sebagai bahan omongan." (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Asakir). Riwayat Lain. Dan pesan yang terakhir dicuplik dari Kitab Tahdzibuk Asma, shahih muslim fi Syarkin Nawawi, Ruhul Mu'ni XV halaman 223. Sebelum Khidir berpisah dengan Nabi Musa as yang tidak sabar itu, dia berpesan, Wahai Musa, sesungguhnya orang yang selalu memberi nasehat itu tidak pernah jemu seperti kejemuan orang-orang yang mendengarkannya. Maka janganlah kamu berlama-lama dalam menasehati kaummu. Dan ketahuilah bahwa hatimu itu ibarat sebuah bejana yang harus kamu rawat dan pelihara dari hal-hal yang memecahkannya. Kurangilah usaha-usaha duniawimu dan buanglah jauh-jauh di belakangmu karena dunia ini bukanlah alam yang akan kamu tempati selamanya. Kamu diciptakan adalah untuk mencari tabungan pahala-pahala akhirat nanti. Bersikap ikhlaslah dan bersabar hati menghadapi kemaksiatan yang dilakukan kaummu.
Pertemuan Nabi Khidir dan Ibrahim bin Adham
Siapa Ibrahim bin Adham itu. Beliau adalah seorang Raja Baikh yang emninggalkan istana untuk menjadi seorang sufi. Pada saat ketenaran Ibrahim bin Adham sudah tersebar luas, dia meninggalkan gua pertapaannya dan pergi menuju Mekah. Dialah salah seorang sufi teladan umat Islam yang terkenal. Naga pun berusjud di hadapannya. Kisah. Di tengah padang pasir, Ibrahim berjumpa dengan seorang tokoh besar agama yang mengajarkan kepadanya nama-nama Teragung dari Allah SWT. Dengan Nama yang teragung itulah Ibrahim menyebut Allah SWT dan sesaat kemudian ia dikarunia bertemu dengan Nabi Khidir as. "Ibrahim," kata Nabi Khidir as. "Saudaraku Daudlah yang mengajarkan kepadamu nama-nama Teragung dari Allah SWT itu," kata Nabi Khidir as lebih lanjut. Haa..jadi yang tadi adalah Nabi Daud as yang menjumpai Ibrahim bin Adham. Kemudian mereka berbincang-bincang mengenai berbagai masalah. Dari perbincangan itulah Ibrahim menyerap berbagai ilmu hakiki. Dengan seizin Allah SWT, Nabi Khidir as adalah manusia pertama yang telah menyelamatkan Ibrahim. Selanjutnya, perjalanan diteruskan menempuh ganasnya padang pasir. Sesampainya di Dzatul Irq, Ibrahim bertemu dengan 70 orang yang berjubah kain perca tergeletak mati dan darah mengalir dari hidung dan telinga mereka. Ibrahim berjalan mengitari mayat-mayat tersebut dan ternyata salah seorang dari mereka masih hidup. "Anak muda, apakah yang telah terjadi?" tanya Ibrahim. Orang itu menjawab, "Wahai manusia, beradalah di dekat air dan tempat shalat, janganlah menjauh agar engkau tidak dihukum. Tetapi jangan pula terlalu dekat agar engkau tidak celaka. Tidak seorangpun boleh bersikap terlampau berani di depan sultan. Takutilah sahabat yang membantai dan memerangi para peziarah ke tanah suci seakan-akan mereka itu orang-orang kafir Yunani." "Siapakah kalian?" tanya Ibrahim. "Kami adalah rombongan sufi yang menembus padang pasir dengan berpasrah kepada Allah SWT dan berjanji tidak akan mengucapkan sepatah katapun di dalam perjalanan kecuali hanya mengingat Allah SWT. Dan kmai tidak peduli kepada sesuatu pun selain kepada-Nya." jawab orang itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)









0 komentar:
Posting Komentar